Tampilkan postingan dengan label Sinyal gempa besar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sinyal gempa besar. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Maret 2011

Gempa Sendai 8,9 SR Jumat 11-3-2011 jam 14:46:22

Dalam catatan Badan Metrologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) gempa di 144 km tenggara Ofunato kekuatan ledakan 8,9 SR terjadi pada hari Jum’at 11-3-2011 pukul 12:46 Wib. Atau jam 14:46:22 waktu Sendai dan Fukushima. Pusat gempa pada kedalaman 44 km (8,9 SR) dan kedalaman 10 km (8,5 SR) di laut. Selisih waktu Wib dengan waktu Sendai  adalah 2 jam.















Waktu gempa 8,9 SR terjadi pukul 14:46:22 waktu setempat, yang menimbulkan tsunami di Sendai, Fukushima dan beberapa tempat lainnya di bumi.

Quran surat ke-14 adalah surat Ibrahim, ayat 44 sampai dengan 46 menerangkan bencana yang ditimbulkan dosa reingkarnasisme atau paham hidup di bumi adalah abadi.

Artinya gempa 8,9 SR pada pukul 14:46 di 144 km tenggara Ofunato yang menimbulkan tsunami dan kerusakan parah di Sendai, Fukushima dan beberapa tempat lainnya di bumi merupakan teguran dari Allah karena ada banyak manusia di sana yang memiliki paham reingkarnasi, yang tidak percaya adanya kiamat.
Genap sebulan yang lalu Jumat 11-2-2011 terjadi peristiwa besar, Presiden Mesir Hosni Mubarak mundur karena desakan pengunjuk rasa. Apa yang akan terjadi pada 11-4-2011 nanti?
Bersiaplah menanti bencana besar berikutnya, khususnya bagi negeri yang warganya memuja matahari (mungkin Peru, Kurdistan, Turki, Nepal, Iran, Yunani, China, .... )

044. Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang zalim: "Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul. (Kepada mereka dikatakan): "Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?,
045. dan kamu telah berdiam di tempat-tempat kediaman orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri, dan telah nyata bagimu bagaimana Kami telah berbuat terhadap mereka dan telah Kami berikan kepadamu beberapa perumpamaan?"
046. Dan sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar, pada di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu. Dan sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya. QS Ibrahim: 44-46.


Gempa besar terjadi karena dampak dari gangguan keseimbangan di perut bumi yang berasal dari ketidakseimbangan di permukaan bumi. Pohon/flora adalah faktor penyeimbang di bumi. Kekuatan gempa dapat dikurangi dengan menambah faktor penyeimbang.

Berbagai hipotesa muncul, setelah gempa 8,9 SR Jumat 11-3-2011 jam 14:46:22 waktu Sendai, yang menimbulkan tsunami dan kerusakan dahsyat di Sendai, Fukushima, Iwaki, California dan Papua dan beberapa negeri lainnya di bumi. Ada yang menyatakan gempa Sendai mempercepat rotasi bumi.

Saya menjawab tidak mungkin. Karena rotasi bumi dipengaruhi oleh jarak bumi dengan bulan dan matahari. Gempa besar tidak mempengaruhi rotasi bumi, karena tidak ada material (zat padat, cair, uap) yang keluar dari atmosfir bumi karenanya, artinya volume/berat bumi stabil. Selain daya gravitasi bumi, bumi juga dijaga oleh malaikat.

Adapula yang berhipotesa bahwa gempa besar terjadi karena kedekatan bumi dan bulan, yang disebut dengan perigee. Bila jarak bumi dan bulan berjauhan disebut dengan apogee.

Di antaranya Situs astronomi Space.COM beberapa waktu lalu memberitakan bahwa bulan sedang bergerak pada posisi terdekat dengan bumi. Posisi terdekat akan dicapai pada tanggal 19 Maret 2011 nanti, di mana bulan hanya  berjarak 221.567 mil, terdekat selama 18 tahun terakhir. Ketika Bulan sedang ada pada posisi terdekatnya, maka fenomena ini sering disebut "supermoon". 
Blogger Mark Paquette misalnya, memulai spekulasinya dengan mengatakan bahwa beberapa peristiwa gempa dahsyat memang terkait dengan kedekatan Bumi-Bulan. Ia mencontohkan gempa yang mengakibatkan tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004 lalu. Gempa tersebut terjadi 14 hari sebelum perigee Bumi-Bulan yang terjadi pada 10 Januari 2005.

Bumi dan bulan akan mencapai jarak terdekatnya (perigee maksimum) pada 19-3-2011 nanti, bukan pada 11-3-2011 yang lalu. Jadi tidak mungkin gempa Sendai terjadi karena kedekatan bumi dan bulan.

007. (Malaikat-malaikat) yang memikul `Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): "Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang bernyala-nyala, QS Al Ghafir: 7.

037. Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. QS Fusshilat: 37.

012. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. QS Fusshilat: 12.

Rabu, 22 Desember 2010

Tambora meletus 11-4-1815 pukul 18:59?











Gunung Tambora pernah tercatat sebagai gunung api tertinggi di Indonesia. Itu terjadi sebelum gunung tersebut meletus dahsyat pada 11 April 1815. Ketika itu puncak Gunung Tambora mencapai ketinggian sekitar 4.300 meter di atas permukaan laut. Bandingkan dengan daratan tertinggi di Indonesia saat ini, yakni Puncak Jayawijaya, Papua, yang berketinggian sekitar 3.050 m. Usai Tambora meletus hebat, daratan di bagian puncak itu dimuntahkan ke berbagai arah. Akibatnya, ketinggian gunung api yang masih tersisa tinggal setengahnya, yakni sekitar 2.851 m.

Letusan yang amat mengerikan itu juga menyisakan sebuah kaldera yang sangat besar. Bahkan, menurut catatan, ukuran kaldera tersebut paling luas di Indonesia. Bayangkan, kaldera tersebut memiliki diameter sekitar 7 km, panjang maksimal 16 km, dan kedalaman 1,5 km. 

Kini, gunung api yang secara administratif berada di dua kabupaten; Dompu dan Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) itu meninggalkan kisah ajaib, bukan saja di Indonesia namun juga berdampak hingga ke berbagai penjuru dunia. 


Sangat mencekam tragedi itu bermula pada 5 April 1815. Ketika itu kawasan di sekitar Gunung Tambora mulai bergetar. Getaran itu semakin menguat, klimaksnya pada 11 April 1815, pukul 18.59 waktu setempat. 
Letusan Gunung Tambora NTB
Pada malam hari, dari kejauhan Tambora memang benar-benar terang benderang lantaran api yang terus memancar dari puncak gunung tersebut. Suasananya sangat mencekam. Gunung itu seolah berubah menjadi aliran api yang sangat besar. Pada saat bersamaan, letusan itu juga memuntahkan gas panas, abu vulkanik, dan batu-batu ke arah bawah sejauh 20 km hingga ke laut. Desa-desa di sekitar Tambora pun musnah dilalap aliran piroklastik tersebut.
Menurut Haris Firdaus dalam bukunya berjudul Misteri-misteri Terbesar Indonesia (2008), tiga kerajaan kecil hangus dan hancur terkena lahar dan material letusan Gunung Tambora. Ketiga kerajaan itu adalah Pekat yang berjarak sekitar 30 km sebelah barat dari Tambora. Lalu, Kerajaan Sanggar berjarak 35 km sebelah timur Tambora, dan Kerajaan Tambora berjarak 25 km dari gunung tersebut. Hampir semua penghuni di tiga kerajaan tersebut tewas. 
Hanya dua orang yang berhasil selamat. Padahal, lokasi ketiga kerajaan itu tadinya sudah diusahakan cukup aman dari dampak letusan gunung api. Letusan Gunung Tambora juga membawa material longsoran yang sangat besar ke laut. Longsoran itu menimbulkan tsunami di berbagai pantai di Indonesia seperti Bima, Jawa Timur, dan Maluku. Ketinggian tsunami tersebut ditaksir mencapai 4 meter. Bukan hanya itu, ledakan dahsyat tersebut juga menebarkan abu vulkanik hingga ke Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Bahkan bau nitrat juga tercium hingga ke Batavia (kini Jakarta).
Letusan Dahsyat gunung tambora NTB
Hujan besar disertai jatuhnya abu juga terjadi. Menurut para geolog, letusan itu merupakan bencana alam terbesar sepanjang sejarah. Bayangkan, dibandingkan dengan letusan Gunung Krakatau yang terjadi pada Agustus 1883, ledakan Gunung Tambora lebih dahsyat empat kali lipatnya. Letusan Gunung Tambora itu terdengar hingga ke Pulau Sumatera, Makassar, dan Ternate sejauh 2.600 km. Abunya juga diterbangkan sejauh 1.300 km dengan ketinggian 44 km dari permukaan tanah. Volume debu ditaksir mencapai 400 km3. Saking tebalnya debu-debu yang berterbangan di langit, sepanjang daerah dengan radius 600 km dari gunung tersebut terlihat gelap gulita selama dua hari. Maklum, sinar matahari tak mampu menembus tebalnya abu-abu tadi. Daerah paling menderita tentu saja yang berdekatan dengan lokasi Gunung Tambora.

Menurut ahli botani SwisS, Heinrich Zollinger, dalam seketika letusan ini menewaskan sekitar 10.000 orang. Setelah itu, jumlah kematian karena kelaparan di Sumbawa mencapai 38.000 orang dan di Lombok 10.000 orang. Sumber lain menyebutkan, letusan itu telah menyusutkan populasi penduduk Sumbawa hingga tersisa hanya 85.000 orang.

Jumlah Korban Meluas Bukan hanya itu. Jumlah korban tewas juga meluas hingga ke Pulau Bali, yakni mencapai 10.000 orang. Dampak berikutnya, sebanyak 49.000 orang tewas karena penyakit dan kelaparan.
Mengapa terjadi bencana kelaparan yang berkepanjangan? Ada beberapa sebab. Pertama, semua tumbuhan di Pulau Sumbawa ketika itu hancur total akibat tertutup abu tebal dan dilalap api. Kedua, selama dua minggu awan tebal masih menyelimuti daerah-daerah di sekitar Gunung Tambora, termasuk Bali. Dampaknya, banyak tanaman budidaya hancur dan gagal panen. Ketiga, partikel-partikel abu itu dalam jangka waktu lama masih berada di atmofer dengan ketinggian 10 – 30 km. Akibatnya, siklus iklim menjadi tak menentu dan petani pun tidak bisa memanen tanaman budidayanya. 
Kekacauan iklim juga melanda kawasan Eropa, Amerika Serikat, dan Kanada.

Setahun setelah letusan itu, pada 1816, kawasan tersebut mengalami tahun tanpa musim panas. Cuaca di kawasan tersebut berubah total. Maklum, partikel abu tadi masih membungkus atmosfer bumi sehingga menghalangi sinar matahari menerobos ke permukaan tanah. Paceklik pun melanda Kanada, AS, Inggris, dan lain- lain. Udara beku yang terjadi di negara-negara tersebut menghapuskan impian para petani. Penduduk pun kekurangan bahan makanan. Dampak terparah dialami Irlandia. Di sana curah hujan dingin terjadi hampir sepanjang musim panas. Sekitar 65.000 orang mati kelaparan dan terkena wabah tipus. Wabah ini lalu menyebar ke Eropa dan menewaskan 200.000 orang. Letusan Gunung Tambora memang tragis. Letusan itu melenyapkan ratusan ribu manusia, baik mereka yang terkena dampak langsung maupun tak langsung. Kisah memilukan ini sesuai dengan nama Tambora yang berasal dari dua kata: ta dan mbora yang berarti ajakan menghilang. 

Menurut mitos yang berkembang, di masyarakat sekitar gunung percaya, kabarnya ada sekitar 4.500 pendaki, pemburu, dan penjelajah yang hilang. Mereka itu tak pernah ditemukan di Gunung Tambora yang kini diselimuti hutan dengan aneka bunga anggrek yang sangat mempesona.


NAPOLEON, RAFFLES, dan TAMBORA. Letusan hebat Gunung Tambora pada April 1815 bukan saja melumat dan meluluhlantakkan tiga kerajaan kecil di Pulau Sumbawa. Lebih dari itu, nun jauh di daratan Eropa, tepatnya di Belgia, pasukan tentara di bawah komando penguasa Prancis, Jenderal Napoleon Bonaparte harus bertekuk lutut di tangan Inggris dan Prussia. 
2 bulan setelah Tambora meletus dahsyat, tepatnya pada 18 Juni 1815, pasukan Napoleon terjebak musuh. Pasalnya, di sepanjang hari itu cuaca memburuk. Hujan terus mengguyur kawasan tersebut. Padahal, tentara Prancis itu sedang menuju laga pertempuran. Akibat cuaca buruk, roda kereta penghela meriam terjebak lumpur. Semua kendaraan tak bisa melaju dengan mulus. Tanahnya licin, berselimutkan salju. Maklum, abu tebal dari letusan Gunung Tambora masih bertebaran di atmosfer sehingga menghalangi sinar matahari yang jatuh ke bumi.


Perang Waterloo itu menjadi kisah tragis bagi Napoleon. Kehebatan Napoleon dalam menundukkan musuh-musuhnya berakhir sudah. Ia pun menyerah kalah. Jenderal itu lalu dibuang ke Pulau Saint Helena, sebuah pulau kecil di selatan Samudra Atlantik. Di pulau terpencil itulah ia menghabiskan waktunya hingga meninggal dunia pada 1821 akibat serangan kanker. Kenneth Spink, seorang pakar geologi berteori, bahwa cuaca buruk akibat letusan Gunung Tambora menjadi salah satu pemicu kekalahan Napoleon. Pada pertemuan ilmiah tentang Applied Geosciences di Warwick, Inggris (1996), Spink mengatakan bahwa letusan Gunung Tambora telah berdampak besar terhadap tatanan iklim dunia kala itu, termasuk cuaca buruk di Waterloo pada Juni 1815. 


Di Yogyakarta, letusan Tambora mengagetkan Thomas Stamford Raffles. Gubernur Jenderal Britania Raya di Jawa yang berkuasa pada tahun 1811-1816 itu tadinya mengira ledakan itu berasal dari suara tembakan meriam musuh. Wajar saja demikian karena ketika itu teknologi komunikasi (telegram) memang belum tercipta sehingga letusan itu tak bisa disampaikan ke berbagai penjuru daerah dalam waktu yang relatif cepat. Takut diserang musuh, Raffles pun lalu mengirim tentara ke pos-pos jaga di sepanjang pesisir untuk siap siaga. Perahu-perahu pun disiagakan. Apa boleh buat, dugaan Raffles keliru. Tiada serangan musuh. (Sumber: ngobrol.com)

Setelah sempat 'batuk-batuk' pada 11 April 1815, Gunung Tambora di Sumbawa meletus dahsyat, 7  pada skala Volcanic Explosivity Index. Terbesar dalam sejarah. Getarannya mengguncangkan bumi hingga jarak ratusan mil.

Jutaan ton abu dan debu muncrat ke angkasa. Akibatnya sungguh dahsyat, tak hanya kehancuran dan kematian massal yang terjadi di wilayah Hindia Belanda, efeknya bahkan mengubah iklim dunia. Petaka dirasakan di Eropa dan Amerika Utara. Tahun 1816 dijuluki 'The Year without Summer', tak ada musim panas di tahun  itu.

Letusan Tambora juga mengakibatkan gagal panen di China, Eropa, dan Irlandia. Hujan tanpa henti selama delapan minggu memicu epidemi tifus yang menewaskan 65.000 orang di Inggris dan Eropa. Kelaparan melumpuhkan di Inggris.

Kegelapan menyelimuti Bumi, menginspirasi novel-novel misteri legendaris misalnya, 'Darkness' atau 'Kegelapan' karya Lord Byron, 'The Vampir' atau 'Vampir' karya Dr John Palidori dan novel 'Frankenstein' karya Mary Shelley.

Tambora juga jadi salah satu pemicu kerusuhan di Perancis yang warganya kekurangan makanan. Juga mengubah sejarah saat Napoleon kalah akibat musim dingin berkepanjangan dan kelaparan pada 1815 di Waterloo

Meski sudah tak lama aktif, Tambora masih menarik perhatian. Astronot Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), pada tahun 2009, NASA mengabadikan kaldera Tambora dari luar angkasa.

Kaldera Tambora berdiameter 6 kilometer dan sedalam 1.100 meter. Kawah ini terbentuk saat Tambora yang saat itu tingginya sekitar 4.000 meter kehilangan puncaknya dan ruang magma dikosongkan dalam letusan dahsyat tahun 1815.

Dalam foto NASA, tampak kawah Tambora menjadi danau air tawar, yang juga diisi aliran lava minor dan kubah dari abad ke-19 dan ke-20.

Deposit tephra -- material campuran letusan gunung berapi -- bisa dilihat dari sepanjang pinggiran kawah barat laut. Fumarol aktif atau ventilasi uap, masih eksis di kaldera Tambora.

Pada tahun 2004, para ilmuwan menemukan sisa-sisa peradaban kuno dan kerangka dua orang dewasa yang terkubur abu Tambora di kedalaman 3 meter. Diduga, itu adalah sisa-sisa Kerajaan Tambora yang tragisnya 'diawetkan' oleh dampak letusan dahsyat itu.
Penemuan situs itu membuat Tambora punya kesamaan dengan letusan Gunung Vesuvius di abad ke-79 Masehi. Peradaban di Tambora punah ibarat "Pompeii di Timur."
Pompeii adalah nama kota Romawi di dekat Naples, Italia yang disapu oleh letusan dahsyat Gunung Vesuvius. Kota tersebut terkubur di bawah timbunan abu raksasa dan lenyap selama 1.600 tahun sebelum ditemukan kembali secara tidak disengaja.
Foto lawas dampak letusan Tambora di Amerika Serikat (Maurice Morley | Saratogian.com)
VIVAnews - Sore itu, 5 April 1815, Gunung Tambora di Sumbawa sudah menunjukkan gejala tak beres. Tambora 'batuk -batuk' dan bergemuruh.

Beberapa hari kemudian, pada 11 dan 12 April letusan Gunung Tambora mencapai klimaksnya. Gunung besar itu meletus,  getarannya mengguncangkan bumi hingga jarak ratusan mil, memuntahkan lava dan batuan gunung.

Jutaan ton abu dan debu muncrat ke angkasa. Akibatnya sungguh dahsyat, tak hanya kehancuran dan kematian massal yang terjadi wilayah Hindia Belanda, efeknya bahkan mengubah iklim dunia. Petaka dirasakan di Eropa dan Amerika Utara.

Sebuah koran lokal di Amerika Serikat, The Saratogian, 15 Agustus 2010. memuat cerita sejarahwan, Maurice Morley tentang nestapa yang disebabkan meletusnya Gunung Tambora.

Menurut Morley, salah satu untuk tetap tenang menghadapi panasnya cuaca, kondisi berkabut, lembabnya malam saat ini adalah mengingat 'The Year of Summer' atau 'tahun tanpa musim panas', ketika suhu sangat dingin, manusia dan hewan membeku, panen gagal, dan orang-orang ketakutan mengira saat itu akhir dunia akan segera tiba.

Menurut sebuah artikel surat kabar lama, tumpukan salju hampir setinggi satu kaki turun di Ballston Spa, AS selama. Penduduk membundel tubuhnya dari kepala sampai kaki.

Meski demikian, ada saja yang tewas membeku. Beberapa orang bahkan memilih  bunuh diri karena yakin Matahari sedang membeku dan Bumi akan segera hancur.

"Angin yang bertiup Juni, Juli, Agustus 1816 terus bertiup dari utara, keras, dan dingin," demikian dilaporkan surat kabar lawas tersebut.

Meski tanaman mati, petani tetap bercocok tanam, dengan sarung tangan, mereka menebar benih jagung.

"Selama Juli-Agustus, tumpukan salju makin tinggi. Pada 30 Agustus bahkan ada badai besar. Hanya ada kesuraman sepanjang musim panas itu, tidak ada pemandangan hijau di manapun."

Dikutip dalam koran itu, sebuah cerita bagaimana seorang wartawan, James Winchester menemukan pamannya tewas terkubur dan kaku di salju saat mencari dombanya.

Meski suhu sempat menghangat di bulan September, rasa takut tetap mendera, bahkan di hati orang beriman sekalipun.

Seorang pria tua, James Gooding, teramat sangat putus harapan. Dia membunuh semua sapinya, lalu menggantung diri. Dia bahkan menganjurkan hal yang sama pada istrinya. Alasannya, menghindari kematian karena dingin dan kelaparan, yang ia yakini tak terelakan. (umi)
Pada 5 April 1815 sore, gunung berapi Tambora mulai bergemuruh dan 'batuk -batuk'. Kondisi ini terjadi dalam beberapa hari.
Beberapa hari kemudian, pada 11 dan 12 April letusan Gunung Tambora mencapai klimaksnya. Gunung besar itu meletus, getarannya mengguncangkan bumi hingga jarak ratusan mil.

Selama lebih dari 10 hari kemudian, Tambora mengeluarkan 24 kubik mil (1 mil = 1,6 kilometer) lava dan bebatuan gunung. Saking dahsyatnya, di puncak Tambora tercipta kawah selebar tiga mil dan dalamnya hampir 1 mil.

Lelehan lava panas, batu yang berterbangan, dan gas mematikan yang keluar dari perut Tambora saat itu menewaskan puluhan ribuan orang.

Jutaan ton abu dan debu memenuhi udara, mengubah siang hari menjadi gelap gulita. Debu tebal menyelimuti wilayah kaki gunung dan bahkan Bali.

Debu menutup semua vegetasi di Pulau Bali dan menyelimuti lautan. Sekitar 117.000 orang di wilayah yang dulu dikenal sebagai Hindia Belanda tewas. Banyak dari mereka terkena imbas letusan,  jadi korban kelaparan dan penyakit.

Itu baru permulaan.

Badan Geologi Amerika Serikat atau US Geological Survey bahkan menobatkan letusan Tambora sebagai "yang terkuat sepanjang sejarah".

Letusan Tambora bahkan lebih dahsyat dari Krakatau. Menurut data Volcanic Explosivity Index (VEI), indeks letusan gunung yang mirip skala Richter untuk mengukur kekuatan gempa.

Perhitungan VEI ada pada skala 1 hingga 8, setiap satu angka adalah 10 lebih besar dari sebelumnya. Tambora ada di level tujuh, Krakatau enam. Ini berarti Tambora lebih kuat 10 kali lebih besar dari letusan Krakatau.

Tak terbayang jika Tambora meletus di era ini. Seperti meriam raksasa, tambora menyemburkan abu, debu, dan setidaknya 400 juta ton gas sulfur ke udara, hingga 27 mil tegak lurus ke strastofer, jauh di atas awan cuaca.

Ini mengakibatkan ledakan di lapisan troposfer -- lapisan terdekat dari permukaan Bumi, di mana awan, angin, dan hujan, serta 75 persen dari berat atmosfer berada.

Semburan Tambora juga menyobek lapisan tipis ozon yang melindungi Bumi dari radiasi sinar matahari.

Karena daya tarik grafitasi yang ringan di angkasa, abu dan debu Tambora melayang dan menyebar mengelilingi dunia. Debu Tambora menetap di lapisan troposfer selama beberapa tahun dan turun melalui angin dan hujan kembali ke Bumi.

Letusan Tambora berakibat luar biasa. Gagal panen di China, Eropa, dan Irlandia. Hujan tanpa henti selama delapan minggu memicu epidemi tifus yang menewaskan 65.000 orang di Inggris dan Eropa. Kelaparan melumpuhkan di Inggris.

Kegelapan menyelimuti Bumi, menginspirasi novel-novel misteri legendaris misalnya, 'Darkness' atau 'Kegelapan' karya Lord Byron, 'The Vampir' atau 'Vampir' karya Dr John Palidori dan novel 'Frankenstein' karya Mary Shelley.

Tambora juga jadi salah satu pemicu kerusuhan di Perancis yang warganya kekurangan makanan. Juga mengubah sejarah saat Napoleon kalah akibat musim dingin berkepanjangan dan kelaparan pada 1815 di Waterloo.
Pendapat Zulfahmi
Dahsyatnya letusan gunung Tambora mungkin mirip dengan cuaca dingin dan kuatnya suara petir yang mematikan di zaman Nabi Hud As, rasul ke-2 setelah Adam As, yang juga memusnahkan kaum 'Ad.

Peristiwa lainnya
8000 tahun lalu, sebuah gunung api menyebabkan salju longsor di Sisilia dan terjun bebas ke laut. Gelombang berkecepatan 200 mil per jam itu memicu tsunami penghancur yang menyebar di seluruh laut Mediterania.

Tidak ada catatan sejarah mengenai kejadian tersebut. Yang ada hanya catatan geologis, tetapi para ilmuwan mengatakan bahwa tsunami yang sempat terjadi tersebut lebih tinggi dari gedung tingkat 10.

1 November 1755, setelah gempa bumi kolosal menghancurkan Lisbon, Portugal dan pegunungan di Eropa, orang menyelamatkan diri dengan menggunakan perahu. Namun Tsunami akhirnya menyusul. Peristiwa mengerikan secara bersamaan tersebut membunuh lebih dari 60 ribu orang.

27 Agustus 1883, letusan gunung Krakatau memicu terjadinya tsunami yang menenggelamkan 36 ribu orang Indonesia yang berada di pulau Jawa bagian barat dan utara Sumatera. Kekuatan gelombang mendorong 600 ton blok terumbu karang menuju tepi pantai.

15 Juni 1896, gelombang setinggi 30 meter, disebabkan oleh gempa bumi menyapu pantai timur Jepang. Sebanyak 27 ribu orang menjadi korban.

1 April 1946, tsunami April Fool, dipicu sebuah gempa yang terjadi di Alaska, membunuh 159 orang, kebanyakan berada di Hawaii.

9 Juli 1958, diingat sebagai tsunami terbesar yang pernah dicatat oleh masa modern, Gempa di Teluk Lituya Alaska disebabkan oleh tanah longsor yang awalnya dipicu oleh gempa bumi berskala 8,3 skala richter. Gelombang sangat tinggi, tetapi karena wilayah tersebut relatif terisolasi dan kondisi geologinya unik maka tsunami tidak menyebabkan banyak kerusakan. Tapi hanya menenggelamkan satu perahu dan membunuh dua orang pelaut.

22 Mei 1960, salah satu gempa besar yang tercatat manusia terjadi di Chile sebesar 8,6 skala richter, menciptakan tsunami yang menerjang pantai Chile dalam waktu kurang dari 15 menit. Gelombang setinggi 25 meter membunuh 1500 orang di Chile dan Hawaii.

27 Maret 1964, dikenal sebagai gempa bumi Good Friday Alaska, dengan kekuatan sekitar 8,4 skala richter menggulung dengan kecepatan 400 mil per jam tsunami di Valdez Inlet dengan ketinggian 67 meter, membunuh lebih dari 120 orang. Sepuluh orang yang menjadi korban di kota Crescent, di utara California, yang sempat menyaksikan gelombang setinggi 6,3 meter.

23 Agustus 1976, sebuah tsunami di barat daya Filipina membunuh 8 ribu korban gempa bumi.

17 Juli 1998, sebuah gempa berkekuatan 7,1 skala richter menyebabkan tsunami di Papua Nugini yang membunuh 2200 orang dengan sangat cepat.

26 Desember 2004, gempa kolosal dengan kekuatan 9,1 dan 9,3 skala richter mengguncang Aceh, Indonesia dan membunuh 230 ribu jiwa, sebagian besar karena tsunami. Gempa tersebut dinamakan sebagai gempa Sumatera-Andaman dan tsunami yang terjadi kemudian dikenal sebagai tsunami lautan Hindia. Gelombang yang terjadi menimpa banyak belahan dunia lain, hingga Nova Scotia dan Peru.


Minggu, 01 November 2009

Gangguan Keseimbangan Alam

Sinyal ke 3 tentang Gempa Besar. Gempa kecil di bawah 5,0 SR itu normal terjadi, tak ubah seperti petir yang juga acapkali terjadi. Jadi tak usah khawatir, karena ini adalah sunnatullah atau takdir yang didesain Allah agar keseimbangan tetap terjaga.

 “Kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. QS Annaml: 88.

Tips untuk mengurangi gempa, tanam segera pohon-pohon ekonomis yang juga bermanfaat meningkatkan kesejahteraan bagi penanamnya, di setiap tanah kosong terlantar. Kita salah, telah melakukan kerusakan di muka bumi (fasada fil ardi). Maka bagi yang khawatir terjadi bencana segera lakukan perbaikan di muka bumi (shalih fil ardi) dengan melakukan penanaman pohon-pohon pengganti.


Dan ingat batas waktu toleransi keseimbangan itu adalah 3 tahun (azab kecil akan datang berselang 3 tahun). Sama seperti tahun kabisat dalam kalender hijriah.

Jika tak juga dilakukan penanaman pohon-pohon yang bermanfaat bagi penanamnya di setiap tanah kosong terlantar, sementara penebangan terus berlangsung, maka azab yang lebih dahsyat akan datang menyusul azab-azab kecil.

Tenggang waktu datangnya azab besar itu adalah 3 x 10 tahun = 30 tahun. Sama dengan siklus 30 tahun (kelipatan) kalender hijriah yang berisi 11 tahun kabisat. Tenggang waktu 30 tahun ini sama dengan 1 priode generasi. Inilah arti dari perkataan yang banyak dijumpai di Quran, Allah ingin mengganti suatu kaum dengan kaum berikutnya yang bersedia taat dengan melakukan perbaikan-perbaikan, terutama penanaman pohon-pohon yang bermanfaat bagi penanamnya di setiap tanah kosong terlantar, atau bersedia menghijau makmurkan bumi.

QS Ibrahim 14:19. Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan langit dan bumi dengan hak? Jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakan kamu dan mengganti (mu) dengan makhluk yang baru,

Jadi mudah sekali sebenarnya mengelakkan bencana dan justru dapat mendatangkan hasil berlimpah bagi yang bersedia patuh.

Esok lusa kita tak usah lagi takut bencana datang, bila kita sudah tau mengapa bencana belakangan ini sering datang, eh …. justru karena kezaliman kita sendiri.

“Betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan, maka datanglah siksaan Kami (menimpa penduduk) nya di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka beristirahat di tengah hari. Maka tidak ada keluhan mereka di waktu datang kepada mereka siksaan Kami, kecuali mengatakan: ‘Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim”. QS Ala’raf: 4-5

Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil (meteor) dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri QS Alankabut: 40.

Katakanlah: "Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian) kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahaminya QS Alan’am: 65

Rabu, 28 Oktober 2009

Gempa

PERILAKU GEMPA

Oleh Zulfahmi

Sinyal ke-2 yang mencengangkan dan mengagumkan dari memperhatikan waktu-waktu gempa besar yang belakangan ini terjadi di tanah air. Dengan membandingkan waktu terjadinya gempa besar, jam dan menitnya, dengan surat dan ayat Alqur’an yang membicarakan peristiwa bencana. Terbukti ada kecocokan. Peristiwa gempa 7,6 SR di Padang Pariaman, Sumatera Barat Rabu (30/9) pukul 17:16:09 Wib dan gempa 7,0 SR di Sungai Penuh, Jambi pada Kamis (1/10) pukul 08:52:29 Wib yang membuat geger sejak pertengahan bulan Oktober ini karena ada kecocokan dengan nomor surat dan ayat Alqur’an yang menerangkan bencana. Sampai-sampai Majlis Ulama Indonesia (MUI) merasa perlu mengeluarkan pernyataan yang mengecam dan tidak mendukung fakta kecocokan tersebut.

Perhatikan kecocokan waktu gempa yang dicatat BMKG atas gempa Saumlaki, Maluku 7,3 SR pada Sabtu (24/10) pukul 23:40:46 Waktu Indonesia Timur (Wit) dengan QS Almu’minun surat ke (23) ayat (40), yang tercantum di bawah ini:

QS Almu’minun 23:40. Allah berfirman: "Dalam sedikit waktu lagi pasti mereka akan menjadi orang-orang yang menyesal."

Bagi masyarakat Indonesia umumnya, dan khusus bagi masyarakat Maluku, Sulawesi bagian timur, Papua bagian barat dan Nusa Tenggara, untuk menghindari bencana yang dapat segera datang, penulis berpesan bersegeralah lakukan penanaman pohon-pohon yang dapat meningkatkan kualitas ekonomi para penanamnya sekaligus berfungsi sebagai penyeimbang di perut bumi dan di udara, pada setiap tanah kosong yang terlantar. Hentikan kebiasaan melakukan huru-hara, unjuk rasa yang cenderung anarkis dan pemaksaan kehendak, perkelahian antar kelompok, aksi penembakan, perang antar golongan, jangan ada lagi aktivitas separatis seperti RMS, OPM, NII atau PRRI untuk terpisah dari NKRI. Karena semua perilaku zalim ini adalah azab kecil yang mengundang azab lebih besar. Karena Allah ingin mengganti masyarakat kini dengan masyarakat berikutnya yang bersedia untuk patuh. Dan minta ampunlah kepada Allah karena tidak menghijau makmurkan bumi.

Allah dalam berbuat memang maha perhitungan (Alhasib), kecocokan tersebut dapat menambah keyakinan dan kekaguman kepada Allah pencipta Alqur'an dan alam semesta, agar tidak sepele dengan ancaman yang disebutkan di Alqur’an kepada orang yang zalim. Karena Alquran dan alam semesta adalah saling menjelaskan. Bahwa kemurnian Alqur’an benar-benar dapat dipercaya dan terjamin karena klop dengan berbagai peristiwa di alam raya, sebagai rujukan atas nomor surat dan ayatnya. Seperti kita ketahui bahwa pada masa Rasul Muhammad saw dan sahabat Abu Bakar Alquran belum dijilid masih berupa lembaran-lembaran yang terpisah dan berupa hapalan sebahagian sahabat. Setelah dibukukan, ternyata urutan surat dan ayat itu tetap terpelihara hingga sekarang. Dan waktu-waktu peristiwa gempa besar tersebut adalah rujukannya. Ini tentu adalah bukti dari kebenaran perkataan Allah:

QS Alhijr 15:9. Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.

QS Annahl:102. Katakanlah: "Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur'an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)".

QS Alkahfi 18:1. Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al Qur'an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya;

QS Thaahaa 20:2. Kami tidak menurunkan Al Qur'an ini kepadamu agar kamu menjadi susah;

QS Thaahaa 20:113. Dan demikianlah Kami menurunkan Al Qur'an dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali di dalamnya sebahagian dari ancaman, agar mereka bertakwa atau (agar) Al Qur'an itu menimbulkan pengajaran bagi mereka.

Berikut ini adalah dalil sebagai bukti Alqur'an menganut numerologi:

Alkahfi 18:22. Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: "(Jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjingnya", sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: "(Jumlah mereka) tujuh orang, yang kedelapan adalah anjingnya". Katakanlah: "Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit". Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka.

Almudatstsir 74:31. Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab dan orang-orang mu'min itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): "Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?" Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia.

Yunus 10:5. Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.

Alqur’an diturunkan berdasarkan ilmu Allah, demikian pula dengan gempa. Gempa adalah ayat Allah yang berupa peristiwa alam yang mengejutkan. Keduanya berkaitan dan saling menjelaskan.

QS Huud 11:14. Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu maka (katakanlah olehmu): "Ketahuilah, sesungguhnya Al Qur'an itu diturunkan dengan ilmu Allah dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)?"

Berikut ini penulis sajikan 3 catatan gempa besar yang dikutip dari BMKG yang terjadi belakangan ini yang juga menunjukkan kecocokan nomor surat dan ayat Qur’an dengan waktu terjadinya gempa. BMKG melaporkan gempa berkekuatan 7,0 SR telah mengguncang 46 km Tenggara Sungai Penuh, Jambi pada Kamis (1/10) pukul 08:52:29 Wib.

QS Alanfaal 8:52. (keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir`aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Amat Keras siksaan-Nya.

BMKG melaporkan gempa berkekuatan 7,6 SR telah mengguncang 57 km Barat Daya Padang Pariaman, Sumatera Barat pada Rabu (30/9) pukul 17:16:09 Wib.

QS Alisraa’ 17:16. Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menta`ati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.

Data (3/9) melaporkan gempa berkekuatan 7,3 SR telah mengguncang Tasikmalaya pada Rabu (2/9) pukul 14:45 Wib.

QS Ibrahim 14:45. dan kamu telah berdiam di tempat-tempat kediaman orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri, dan telah nyata bagimu bagaimana Kami telah berbuat terhadap mereka dan telah Kami berikan kepadamu beberapa perumpamaan?"

Berdasarkan fakta gempa dan hujan yang senantiasa dicatat BMKG dan dapat kita saksikan sendiri bahwa gempa dan hujan terjadi setiap hari, hanya lokasinya saja yang berpindah-pindah.

Mengapa gempa
Gempa merupakan efek dari pergerakan lapisan-lapisan bawah bumi yang bergerak sama seperti bergeraknya awan. Lapisan-lapisan bumi tersebut bergerak untuk mencapai keseimbangan, atau bergerak kearah keseimbangan. Ledakan besar (gempa) dapat terjadi bila lapisan-lapisan bumi tersebut bertemu sebagai dua kutub berlawanan yang memuat potensi besar ketidakseimbangan.



Keseimbangan dapat terjaga bila factor penyeimbang tersedia cukup di air dan di darat. Yang berfungsi sebagai penyeimbang di bumi adalah tumbuh-tumbuhan darat dan tumbuh-tumbuhan yang hidup di air.

Ke atas atau ke udara tumbuh-tumbuhan berfungsi antara lain menjaga keseimbangan oksigen, karbondioksida, ozon, kelembaban udara dan suhu. Sehingga bibit hujan dan petir dapat berkurang.

Ke perut bumi tumbuh-tumbuhan berfungsi antara lain menjaga keseimbangan gas, nitrogen, air, dan larutan mineral, sehingga perut bumi cenderung seimbang unsur-unsurnya, sehingga dapat memperkecil bibit gempa, banjir dan tanah longsor.

“Kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. QS Annaml: 88.

Namun demikian kita tidak perlu menyikapi fenomena gempa seperti yang dipaparkan para pakar, atau seperti peramal mengungkapkan terawangannya. Karena untuk meredam goncangan bumi Allah telah menancapkan gunung-gunung sebagai pasak bumi.

“Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu dapat melintasinya”. QS Annahl: 15.

Ada 3 sinyal yang layak dicermati menjelang terjadinya gempa besar di atas 8,1 SR. Sinyal yang paling utama, yaitu bandingkan perilaku masyarakat dengan perilaku kaum Madyan umat Rasulullah Syu’aib as yang ditumpas oleh gempa besar antara lain karena meninggalkan shalat, curang dalam menimbang dan menakar, menelantarkan tanah lebih dari 3 tahun setelah pohon-pohonnya ditumbangkan, mengancam dan menghalangi orang melakukan perbuatan mulia, QS Ala’raf: 85, 86 dan 91.

Atau perilaku kaum Tsamud umat Rasulullah Shaleh as yang ditumpas oleh gempa besar antara lain karena meninggalkan shalat, melanggar kesepakatan dan menelantarkan tanah lebih dari 3 tahun setelah pohon-pohonnya ditumbangkan, QS Ala’raf: 73, 74 dan 78.

Untuk menangkal trauma dan kengerian masyarakat yang selamat di lokasi bencana dan di daerah lain tanpa alasan yang logis, akibat beredarnya hipotesa, ramalan dan anggapan yang keliru, terus berlanjut pada masa yang akan datang tanpa pembanding dari sisi wahyu, tanpa tahu bagaimana cara agar Allah membatalkannya, penulis pada kesempatan ini menyatakan bahwa, terdapat kemiripan perilaku masyarakat yang menjadi korban gempa Papua, Aceh, Nias, Yogyakarta, Tasikmalaya dan Sumatera Barat dengan perilaku kaum Madyan dan Tsamud di masa kerasulan yang telah berlalu 3500-5000 tahun silam di kawasan timur tengah.

Bencana banjir, banjir bandang, tanah longsor, pesawat jatuh, kapal tenggelam, sambaran petir, hujan meteor, guntur atau ledakan yang memekak matikan, badai atau galodo, gempa dan tsunami dapat dihindari atau digagalkan dengan menghindari perilaku zalim. Menanami tanah tanah kosong yang terlantar dengan pohon yang memberi manfaat secara ekonomi kepada penanamnya sekaligus menyeimbangkan lingkungan alam di perut bumi dan di udara.

“Betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan, maka datanglah siksaan Kami (menimpa penduduk) nya di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka beristirahat di tengah hari. Maka tidak ada keluhan mereka di waktu datang kepada mereka siksaan Kami, kecuali mengatakan: ‘Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim”. QS Ala’raf: 4-5

Definisi
Gempa kecil atau gempa besar terjadi dari efek pergerakan lapisan-lapisan bawah bumi kearah keseimbangan, sama seperti pergerakan awan yang juga bergerak kearah keseimbangan.

Bila pergerakan awan dapat menimbulkan guntur dan kilat, maka pergerakan lapisan bumi juga dapat menimbulkan ledakan gempa dan kilat.

Hipotesa pakar gempa yang menyatakan gempa di atas 8,1 SR akan menjadi pemicu gempa besar berikutnya 30 tahun kedepan, tidak 100% benar, seperti yang dikemukakan Prof Kerry Sieh dari Singapura, Badrul Mustafa Kemal dari Andalas, Profesor Rob van der Hilst pengajar di Massachusetts Institute of Technology USA, I Wayan Sengara peneliti ITB yang terlibat dalam pembuatan peta zona bencana, Tom Parsons dari Badan Survei Geologi AS atau United States Geological Survey (USGS) yang memantau gempa di seluruh dunia, Profesor Kei Aki ahli tomografi seismik dari Jepang, Sri Widiyantoro dan Wahyu Triyoso pakar Ilmu dan Teknik Geofisika Institut Teknologi Bandung, yang belakangan ini mengemukakan pendapat di beberapa media masa.

Kekuatan gempa hanya dapat meningkat jika tanah-tanah kosong dan terlantar tidak segera ditanami pohon-pohon yang memberi manfaat secara ekonomi kepada penanamnya dan bermanfaat bagi perbaikan keseimbangan lingkungan di perut bumi dan di udara.

Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil (meteor) dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri QS Alankabut: 40.

Katakanlah: "Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian) kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahaminya QS Alan’am: 65

Kesimpulan yang dapat dipetik dari tulisan di atas adalah, pertama gempa besar di atas 8,1 SR tidak dapat memicu gempa besar berikutnya. Kedua, semua gempa baik kecil maupun gempa besar adalah efek pergerakan lapisan bawah bumi menuju kearah keseimbangan. Ketiga, lapisan bawah bumi bergerak sama seperti awan. Keempat, semua bencana dapat dihindari, ia datang karena diundang oleh perilaku zalim. Kelima, cara paling logis dan ilmiah untuk mengeliminasi terjadinya gempa besar adalah menanami tanah kosong yang terlantar dengan pohon-pohon yang dapat meningkatan kualitas ekonomi para penanamnya dan secara ekologis bermanfaat menjaga keseimbangan di perut bumi dan di udara.

Sabtu, 24 Oktober 2009

Gempa kenapa terjadi

PERILAKU GEMPA
Oleh Zulfahmi, SE
Gempa berkekuatan 7,6 SR yang menggoncang Barat Daya Padang Pariaman Rabu (30/9) disusul gempa yang menggoncang Sungai Penuh, Jambi 7,0 SR (1/10) telah menimbulkan kengerian hebat  di tengah-tengah masyarakat khususnya di Padang dan Padang Pariaman. Kengerian hebat tersebut sangat membekas dibenak para korban yang luka-luka dan yang selamat karena setelah goncangan gempa reda, tanah merekah, kegaduhan disusul pula oleh kebakaran, rumah dan gedung runtuh, sebagian runtuh dengan cara spontan oleh goncangan besar yang pertama (7,6 SR) pukul 17:16:09 dan goncangan besar kedua (6,2 SR) pukul 17:38:52, sebagian lagi runtuh secara agak perlahan dan bertahap oleh gempa-gempa kecil (sekitar 5,0 SR) yang datang beruntun susul-menyusul. Ketika malam tiba, gelap, listrik padam, suara tangisan, jeritan mengerang kesakitan sayup-sayup terdengar diredam hujan lebat. Bencana pun dilanjutkan oleh tanah longsor, banjir bandang, batu-batu besar menggelinding turun dari bukit membentur rumah-rumah yang belum sempurna ambruknya.
Berdasarkan data yang dikutip dari BMKG,  pagi hari Kamis (1/10) pukul 8:52:29 goncangan gempa besar (7,0 SR) kembali menggoncang, pusat gempa berada di 46 km Tenggara Sungai Penuh, Jambi, juga terasa kuat di Sumatera Barat, terus menambah tingkat kerusakan di Padang dan Padang Pariaman, sambil diselingi dengan hujan dan tanah longsor. Peristiwa memilukan itu, mengundang pakar gempa dan dukun berkomentar.
Antara News (17/10) melaporkan, gempa mengakibatkan 465 warga Padang Pariaman meninggal 543 luka berat 512 luka ringan serta 210 warga lagi tertimbun di longsoran dan dinyatakan sebagai kuburan massal. Banyak warga terserang diare, infeksi saluran pernafasan akut (ispa), dan gangguan psikologis.  Dicatat 13.376 rumah rusak dengan 8.000 diantaranya rusak berat 106 sekolah rusak.
Di Kota Padang, tercatat sebanyak 383 wafat, dua hilang, 431 luka berat, dan 771 orang luka ringan. Bangunan yang rusak berat tercatat 35.597, rusak sedang 35.816 dan rusak ringan 37.615 unit. Data akhir akibat gempa akan diumumkan pemerintah 21/10. Korban di Jambi hanya 2 orang.




Ramalan gempa
Peramal kondang Mama Loren di televise mengatakan Sumatra akan diguncang gempa besar pada 16-10-2009 atau 2-10-2010 atau Oktober 2010. Ternyata Jumat (16/10) pukul 16:52:50 terjadi gempa 6,4 SR di 42 km Barat Laut Ujung Kulon, Jawa Barat,  tidak menimbulkan korban jiwa, namun merusakkan sedikit bangunan.

Kepala  Observatorium Bumi Singapura Kerry Sieh salah satu pakar gempa yang intensif meneliti kegempaan Sumatera, ia menjelaskan berdasarkan sejarah gempa bumi dengan menganalisa geologi lapisan terumbu karang dari daerah sekitar pulau Sumatera, sebagaimana dilaporkan Analisa (17/10), ia mengatakan “gempa besar berikutnya akan berlangsung lebih dari enam kali, kekuatannya sekitar 8,8 SR. Gempa 30/9 hanya sebuah awal. Berupa tekanan di bawah patahan yang menggulung lonjakan. Merupakan proses mengurangi desakan, yang akan melepaskan energi terpendam dalam 30 tahun mendatang”.

Pernyataan peramal tersebut ditepis oleh Badrul Mustapa Kemal pakar gempa dari Universitas Andalas, sebagaimana dilaporkan Republika (17/10) “komentar peramal yang menyebutkan akan terjadi gempa besar di Sumatera, bisa memicu stres masyarakat. Kegiatan perekonomian menjadi berhenti.

Blok gempa di Siberut dengan siklus 200 tahun baru saja selesai. Sebab gempa 30/9 dicatat BMKG 7,6 SR. Periodesasi gempa dibuat berdasarkan perulangan gempa pada satu tempat dan kemudian baru menyatakan siklus tersebut. Ramalan tentang gempa tidak ilmiah dan itu tidak bisa dipercaya.

Gempa di Siberut 7,4 SR sudah terjadi 10 April 2005, kemudian 16 Agustus 2009 sebesar 6,9 SR dan bahkan pada 30 September 2009 mencapai 7,6 SR. Jika dipakai pola tersebut, diyakini tidak akan ada lagi gempa besar di Siberut, Padang Pariaman dan Padang. 

Gempa sebesar 8,2 SR itu, tidak akan (sering) terjadi lagi di dunia. Apalagi pada satu tempat dan mustahil akan terjadi berkali-kali juga pada satu tempat.

Terjadinya gempa, membutuhkan waktu (lama) untuk menghimpun energi yang cukup besar lagi. Karena itu warga diminta tidak perlu cemas, namun demikian kewaspadaan
tetap diperlukan".
Tak mudah menjawab pertanyaan, kapan gempa besar akan datang lagi, berikut lokasinya? Terhadap hujan lebat yang dapat membuat banjir bandang, yang tanda-tandanya bisa dilihat dengan tatapan mata biasa, namun pakar cuaca belum dapat memperkirakan bila akan terjadi. Berdasarkan fakta gempa dan hujan yang dicatat BMKG dan dapat kita saksikan sendiri bahwa terdapat hujan gerimis, hujan lebat, hujan lebat yang membuat banjir dan ada pula hujan lebat yang membuat banjir bandang.
Begitu juga dengan gempa, ada gempa kecil di bawah 5,0 SR, ada gempa berkadar sedang 5,1 – 6,0 SR, ada gempa berkadar kuat 6,1 – 7,0 SR, dan ada gempa lebih kuat 7,1 – 8,0 SR dan ada pula gempa berkadar sangat kuat 8,1 SR keatas yang dapat memicu tsunami, menelan dan atau membalikkan satu negeri.
Perbandingan frekwensi dan kekuatan gempa dan hujan adalah 1 : 1 = 1 Perbandingannya dapat diilustrasikan dengan rumus matematika: Hujan : Gempa = 1 : 1 = 1
Penjelasan
Pergerakan lapisan-lapisan bumi sama seperti pergerakan awan,
 “Kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. QS Annaml: 88.

Namun demikian kita tidak perlu menyikapi fenomena gempa seperti yang dipaparkan para pakar, atau seperti peramal mengungkapkan terawangannya. Karena untuk meredam goncangan bumi Allah telah menancapkan gunung-gunung sebagai pasak bumi,
“Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu dapat melintasinya”. QS Annahl: 15.

Terjadinya gempa besar di atas 8,0 SR kini masih merupakan rahasia? Ada 3 sinyal yang layak dicermati menjelang terjadinya gempa besar di atas 8,0 SR. Agar tulisan ini tidak terlalu panjang 2 sinyal disimpan dulu. Sinyal yang paling utama dulu diungkapkan pada kesempatan ini, yaitu bandingkan perilaku masyarakat dengan perilaku kaum Madyan umat Rasulullah Syu’aib yang ditumpas oleh gempa besar antara lain karena meninggalkan shalat, curang dalam menimbang dan menakar, menelantarkan tanah lebih dari 3 tahun setelah pohon-pohonnya ditumbangkan, mengancam dan menghalangi orang melakukan perbuatan mulia, QS Ala’raf: 85, 86 dan 91.

Atau perilaku kaum Tsamud umat Rasulullah Shaleh yang ditumpas oleh gempa besar antara lain karena meninggalkan shalat, melanggar kesepakatan dan menelantarkan tanah lebih dari 3 tahun setelah pohon-pohonnya ditumbangkan, QS Ala’raf: 73, 74 dan 78.
Untuk menangkal ketakutan, trauma, kengerian masyarakat yang selamat di lokasi bencana dan di daerah lain tanpa alasan yang logis, akibat beredarnya hipotesa, ramalan, pendapat dan anggapan yang keliru dan liar, terus berlanjut pada masa yang akan datang tanpa pembanding dari sisi wahyu penulis wajib mengatakan pada kesempatan ini atas phenomena bencana yang sambung-menyambung silih berganti di tanah air. Perlu diketahui bahwa  terdapat kemiripan perilaku masyarakat yang menjadi korban gempa Aceh, Nias, Yogyakarta, Tasikmalaya dan Sumatera Barat dengan perilaku kaum Madyan dan Tsamud di masa lalu.

Bencana banjir, banjir bandang, tanah longsor, pesawat jatuh, kapal tenggelam, sambaran petir, hujan meteor, guntur atau ledakan yang memekak matikan, badai atau galodo, gempa dan tsunami dapat dihindari atau digagalkan dengan menghindari perilaku zalim.
 “Betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan, maka datanglah siksaan Kami (menimpa penduduk) nya di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka beristirahat di tengah hari. Maka tidak ada keluhan mereka di waktu datang kepada mereka siksaan Kami, kecuali mengatakan: ‘Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim”. QS Ala’raf: 4-5

Definisi
Gempa kecil atau gempa besar terjadi dari sebab pergerakan lapisan-lapisan bawah bumi kearah keseimbangan, sama seperti pergerakan awan yang juga bergerak kearah keseimbangan.

Bila pergerakan awan dapat menimbulkan guntur dan kilat, maka pergerakan lapisan bumi juga dapat menimbulkan ledakan dan kilat.

Maka hipotesa pakar gempa tentang gempa besar di atas 8,0 SR akan menjadi pemicu gempa besar berikutnya beberapa (30, 40, 60, 100, 150, 200) tahun kedepan, adalah keliru, seperti yang dikemukakan Prof Kerry Sieh dari Singapura, Badrul Mustafa Kemal dari Andalas, Profesor Rob van der Hilst pengajar di Massachusetts Institute of Technology USA, I Wayan Sengara peneliti ITB yang terlibat dalam pembuatan peta zona bencana, Tom Parsons  dari Badan Survei Geologi AS atau United States Geological Survey  (USGS) yang memantau gempa di seluruh dunia,  Profesor Kei Aki ahli tomografi seismik dari Jepang,  Sri Widiyantoro dan Wahyu Triyoso pakar Ilmu dan Teknik Geofisika Institut Teknologi Bandung, yang pekan lalu mengemukakan pendapat di beberapa media masa.
Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil (meteor) dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri QS Alankabut: 40.
Katakanlah: "Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian) kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahaminya QS Alan’am: 65
Kesimpulan yang dapat dipetik dari tulisan di atas adalah, pertama gempa besar di atas 8,0 SR tidak dapat memicu gempa besar berikutnya. Kedua, semua gempa baik kecil maupun gempa besar adalah efek pergerakan lapisan bawah bumi menuju kearah keseimbangan. Ketiga, lapisan bawah bumi bergerak sama seperti awan.  Keempat, semua bencana dapat dihindari, ia datang karena diundang oleh perilaku zalim. Wallahu a’lam bissawab.
*Penulis alumni FE UMSU jurusan Akuntansi, Medan