Selasa, 28 Desember 2010

MANGROVE

htn-baka.jpg (220111 bytes)



pelindung alami yang paling kuat dan praktis untuk menahan erosi pantai.
menyediakan berbagai hasil kehutanan seperti kayu bakar, alkohol, gula, bahan penyamak kulit, bahan atap, bahan perahu, dll.
mempunyai potensi wisata
sebagai tempat hidup dan berkembang biak ikan, udang, burung, monyet, buaya dan satwa liar lainnya yang diantaranya endemik.

Pendapat Zulfahmi
Penanaman kembali mangrove atau bakau dapat menghambat abrasi pantai. Agar penanaman tidak gagal, karena tercabut atau hanyut, bibit mangrove harus diikatkan ke pancang sampai akar mangrove menghunjam ke dalam tanah/pasir.
Reklamasi pantai, pembangunan tanggul dan eksploitasi migas lepas pantai tidak salah dan tidak menimbulkan abrasi, jangan keliru, sebagaimana disebut berita di bawah ini.

Koalisi untuk Advokasi Laut Aceh (KuALA), lembaga pemerhati kelautan dan masyarakat pesisir, memperkirakan garis pantai di provinsi Aceh terus menyusut, menyusul tingginya tingkat abrasi yang terjadi di daerah itu.

"Kami mencatat garis pantai di provinsi Aceh terus mundur hingga puluhan meter sejak sepuluh tahun terakhir," kata koordinator KuALA, Arifsyah M Nasution, sore ini.

 Selain itu, ia juga memperkirakan garis pantai Aceh akan terus mundur dalam rentang waktu 15 tahun mendatang. Penyusutannya berkisar 10 hingga 70 meter.

Menurut dia, garis pantai di pesisir barat selatan provinsi Aceh diperkirakan mundur antara 20 hingga 70 meter, sedangkan pesisir utara dan timur diproyeksikan mengalami penyusutan daratan antara 10 hingga 50 persen.

"Tingginya penyusutan pantai di pesisir barat selatan, karena daratan berhadapan langsung dengan Samudra Hindia, dikenal kekuatan ombaknya yang dahsyat," katanya.

Selain itu, menurutnya, kian mundurnya luas daratan di kawasan barat selatan juga dipengaruhi rusaknya pertahanan pantai akibat dihantam tsunami 26 Desember 2004.

Sedangkan penyusutan garis pantai di pesisir utara dan timur lebih banyak disebabkan rusaknya hutan bakau akibat penebangan yang tidak terkontrol.

"Seperti di pesisir Kabupaten Aceh Tamiang saja terjadi penyusutan antara satu hingga tiga kilometer sejak tiga dekade terakhir. Ini terjadi karena kerusakan hutan mangrove," sebutnya.

Oleh karena itu, lanjut dia, KuALA memperkirakan hampir seluruh garis pantai di Aceh saat ini tidak stabil, baik karena pengaruh gempa tsunami maupun kerusakan ekosistem pantai, serta penataan ruang yang tidak berkelanjutan.

Kecuali itu, sebutnya, anomali musim juga memicu cuaca ekstrem, sehingga daya terjang ombak dan kekuatan arus laut meningkat. Penyebab lainnya akibat pembangunan tanggul, pertambangan pesisir dan eksploitasi migas lepas pantai.

"Tata ruang pembangunan juga mempengaruhi tingginya tingkat abrasi ini. Misalnya reklamasi pantai dan pembangunan tanggul yang menyebabkan terjadinya perubahan arus," ungkap Arifsyah.